Langsung ke konten utama

Postingan

Energi Mayoritas | Sharing #8

Kali ini aku sangat merasakan miris yang amat terasa dalam, kenapa? Ditahun 2017-2018 ini negeri kita sedang dirundung permasalahan politik, dan budaya masyarakat. Kasus permasalahannya memang seperti apa? Ya, kalian pasti tahu kasus E-Ktp, sampai-sampai terjadi drama yang sangat tidak etis, terlebih sangat tidak pantas untuk ukuran seorang pejabat tinggi dalam perwakilan rakyat. Aku sempat berpikir apakah psikologis nya masih berjalan dengan baik? Entahlah duniawi memang banyak manipulasinya. Lalu kita lihat kasus Ahok mengenai penistaan agama, kasus Habib Riziq yang dilaporkan oleh Sukmawati dengan delik penodaan Pancasila, kemudian Sukmawati balik dihajar dengan tuduhan penistaan agama dalam puisinya, bahkan sampai pada Rocky Gerung seorang pengamat politik menjadi bulan-bulanan oleh warganet karena pernyataannya bahwa kitab suci adalah fiksi. Sebenarnya ada apa dengan negeri tercinta ini? Apa negeri ini sedang mengalami kesakitan? Mungkin lebih ke gejala kali ya? Entahlah. Hasrat...

Ambisius | Sharing #7

Malam ini aku baru saja pulang bekerja, seperti biasa sangat melelahkan, poin paling penting dari perjalanan pulang tadi adalah kesunyian dan kesepian. Seringkali aku merasakan kesepian dibalut kesunyian, mungkin karena kehidupanku sekarang ini tidak lagi bersama keluarga, rasanya ketika pulang bekerja ingin sekali membawakan makanan, atau gembolan kresek entah itu apa, yang penting barang atau makanan untuk ibuku dirumah, tetapi semuanya sangat sukar dilakukan. Terkadang aku merasa iri dengan keutuhan keluarga diluaran sana, meskipun beban yang mereka pikul sangat berat, tetapi semuanya akan terobati ketika berpulang ke rumahnya, bercengkrama bersama setelah seharian beraktivitas, hangat rasanya. Untuk kehidupan berkeluarga, bekerja menjadi sebuah keharusan mutlak. Karena kebutuhan berbagai finansial sandang maupun pangan harus tercukupi. Terlepas mau apapun pekerjaannya asalkan sebanding dengan biaya hidup. Tapi apakah pekerjaan menjadi prioritas seseorang? Entahlah. Aku sering ber...

Mekanisme Duniawi | Sharing #6

Orang-orang sudah terlalu sibuk dengan urusan dunianya, sehingga menjadikan dirinya sebagai Robotics Individualism . Terkadang aku merasa aneh dengan orang-orang seperti ini, mereka diambang oleh gaji disetiap bulannya, seolah hidupnya didedikasikan hanya untuk bekerja. Mereka tak sadar bahwa manusia memerlukan uang untuk hidup, bukan hidup untuk uang. Apakah uang sudah melenyapkan naluriah alam pikiran manusia? Sama halnya denganku saat ini. Aku memasuki zona dimana manusia sebagai robotik perusahaan. Melewati hari-hari membosankan, karena tak lain untuk uang semata. Waktuku tak karuan, badanku terkulai lemas. Kemudian aku berpikir, orangtua-orangtua disana yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya sangatlah inspiratif. Semuanya mereka lakukan hanya untuk sebuah keluarga, tak lain adalah anak-anaknya. Mungkin dulu ketika aku masih duduk dibangku sekolah masih tidak menghargai uang, apa-apa tinggal meminta, tanpa memikirkan, yang penting dapet aja gitu, egois sekali aku! Aku te...

Kebudayaan | Sharing #5

Jujur, pada malam ini aku larut dalam buayan musik instrumental kecapi suling sunda, menyejukan hati. Melodi dalam bunyian suling, petikan-petikan nada dari kecapi, serta di bumbui dengan suara gemiricik air dan segala rupa suara satwa di alam bebas, menjadikan instrumen musikalisasi ini sangat-sangat alamiah. Seolah membawa kepada kehidupan sesungguhnya manusiawi, menyatu dengan alam, saling menghargai antara manusia dengan hewan. Aku tersadar bahwa sangatlah berkualitas orang-orang terdahulu yang hidupnya di pedesaan. Tidak ada ambisius terhadap dunia fana ini, mengejar titel demi sebuah kedudukan yang diimpikan. Banyak dari persaingan ini menjadikan individu-individu saling sikut, saling menjatuhkan sama lain, bahkan saling tusuk-menusuk, karena tak lain naluri duniawi menggelapkan pandangan manusiawi. Hanya nafsulah yang menggerus sifat alamiah manusia. Benar adanya dalam percakapan orang terdahulu yang notabene hidup di pedesaan, bahwa definisi bahagia itu sederhana: "menyatu...

Harga Diri | Sharing #4

Semua orang mempunyai perspektif berbeda-beda akan harga diri, mungkin lebih ke tingkatan jabatan atau pengetahuanlah seseorang akan lebih dihargai. Aku ambil contoh seorang manajer dari sebuah perusahaan pastilah mempredikati dirinya mempunyai pandangan untuk lebih dihargai, atau seorang intelektual karena memiliki pengetahuan dan ilmu lebih dari yang lainnya. Lalu bagaimana kita menghargai seorang PSK? apakah mereka-mereka patut untuk dihargai? Pandangan setiap orang terhadap PSK mungkin seringkali dipandang sebelah mata, karena mereka menjual tubuhnya dengan harga yang bisa dibilang sangat murah. Tapi kita kesampingkan dulu soal stigma buruk terhadap PSK. Karena mereka yang memilih terjun kepada dunia gelap gempita ini mempunyai alasannya masing-masing. Di era milenial ini sering terjadi pelecehan-pelecehan dalam bidang pekerjaan, pelecehan disini Non fisik yang berarti tidak ada kontak fisik. Berbagai bidang dalam hal pelayanan mungkin menjadi sorotanku untuk artikel ini, karen...

Broken Home | Sharing #3

Sebenernya definisi broken home secara umum itu seperti apa? Apakah selalu tentang kerusakan keluarga? Apakah itu perceraian? Apa mungkin sekadar hilangnya quality time dalam sebuah keluarga? Semua memang benar, semuanya relatif tergantung sudut pandang saja. Lalu apakah selalu dikaitkan dengan hal negatif? sebenarnya tergantung pula bagaimana orang menyikapinya, tak melulu akan hal negatif. Aku tidak setuju terhadap orang yang hanya menilai broken home itu sebuah kerusakan, yang hanya melihat dari satu sudut pandang saja. tapi memang tak bisa dinyana bahwa broken home memang tak baik, terhadap kelangsungan hidup anaknya kelak. Ya, anaklah yang menjadi korban. Dia pula yang merasakan pahitnya itu semua. Di waktu dekat mungkin hal ini tak bisa diterima oleh seorang anak, yang menjadikan sianak lebih brutal, lebih tak terkontrol seperti biasanya. Ini memang wajar, karena memang ini sebagai bentuk protesnya. Hingga seiring waktu mungkin si anak bisa mengambil pelajaran dari semua itu, k...

Emansipasi Wanita | Sharing #2

Ketika perdaban Mesir kuno, wanita hanya dijadikan budak pemuas nafsu para kaum Adam. Potensinya dianggap tidak berguna, apalagi dengan tenaganya. Hidupnya hanya diperuntukan beranak pinak, tak lebih dari itu. Bahkan di era milenial ini sering kita lihat beberapa kasus pelecehan dan penganiayaan terhadap wanita. Ini bukan lagi jamannya wanita hanya dipandang sebelah mata. Emansipasi sudah ada sejak ibu kartini memperjuangkannya hingga saat ini. Menurutku wanita adalah pejuang tangguh, para kaum adam mungkin lupa siapakah yang berjuang disaat mereka masih dikandung badan, mengurusinya sedari kecil hingga dewasa, apakah para lelaki bisa melakukannya? Tidak, tidak akan mungkin. Ini memang kelebihannya. Karena pada dasarnya wanita mempunyai batin yang sangat kuat. Pada saat Indonesia mengalami krisis tahun 1998, wanita pun ikut menjadi korban para lelaki tak beradab. Hingga kejadian ini diabadikan dalam bentuk patung oleh seniman Nyoman Nuarta yang bisa kita nikmati karyanya digale...

Berproses | Sharing #1

Bersyukur atas semua konspirasiMu Kau punya skenario menarik didalamnya Yang tak mampu ditebak sama sekali oleh nalar Aku malu... Seperti fajar yang malu-malu sekarang ini yang akan tergantikan oleh cahaya menderang Ya, seperti hijrahnya waktu Habis gelap terbitlah terang. Bandung, 2017 Puisi diatas kutulis saat menikmati sunyinya malam menuju pagi didataran tinggi sebelah utara kota Bandung. Bagi pekerja sepertiku ketenangan dan kesunyian adalah hal paling berharga, waktu yang sangat mahal, kenapa? Karena rutinitas pekerjaanku memakan banyak tenaga dan pikiran, dan tempat bekerjaku memang banyak sekali hilir mudik orang yang berbelanja,  kaweur lah ya kalau orang sunda bilang. Saat keramaian berubah menjadi keheningan, disitulah kenikmatanku, waktu dimana tenaga dan pikiranku pulih kembali. Jangan salah karena keheningan ini pula pemikiran seseorang malah bisa makin semerawut, dan berujung pada fase kejiwaan, tapi bagiku keheningan adalah kenikmatan mutlak. Begitu...

Perkenalan

Namaku Arief Syabanudin, lahir dan dibesarkan dikota Bandung, terhitung sejak tahun 1997. Aku adalah pejantan dari ras yang bernama Manusia, berperawakan normal seperti halnya laki-laki pada umumnya. Saat ini aku bekerja disalah satu perusahaan minimarket yang sudah tak asing lagi dari pendengaran dan penglihatan orang Indonesia pada umumnya. Ya, si "merah" itu loh. Dan disitulah semuanya dimulai, yang mengubah segala bentuk pemikiran dan proses pendewasaan. Ok cukup sekian perkenalanku, selamat membaca, dan selamat datang diduniaku, Manipulator Estetika.